Pendahuluan

Sebelum kita menjelajah pada pembahasan subtansi yang cukup rumit ini kita kenang selintas mengenai  pergerakan berbagai peristitawa yang sebenarnya sudah kita pahami, namun perlu untuk dikonfirmasikan baik arti maupun isi serta pengertiannya dan berbagai pernak-perniknya.

Peranan Pemuda

Dalam kondisi bangsa saat ini yang diwarnai oleh berbagai persoalan pasca suksesi kepemimpinan nasional (reformasi 1998), pemuda benar-benafr menjadi tumpuan dan harapan dalam merumuskan konsep dan mengembangkan wawasan kebangsaan dalam membangun bangsa.

Jika berangkat dari gerakkan  mahasiswa dan kaum muda  pada saat  (sumpah pemuda 1928  dan reformasi 1998)  yang cendrung berwatak jalan tengah, maka konsep kaum muda di Indonesia tentu tidak bermakna pengambil alihan seluruh peran dalam sistem wawasan kebangsaan dan pembangunan bangsa oleh kaum muda secara serta merta,dramatis dan irasional. Konsep ini lebih cendrung pada peningkatan efektivitas serta keterlibatan kaum muda dalam melakukan kontribusi positif terhadap sistem pengembangan wawasan kebangsaan dan pembangunan bangsa secara integral dan holistic. Dengan demikian  yang perlu diingat adalah : kaum muda sebagai kader-kader bangsa harus menyiapkan diri dalam pengambil alihan tongkat estafet dalam mengembangkan wawasan kebangsaan dan pembangunan bangsa dengan mengemban amanat reformasi.

Pemuda sebagai salah satu komponen bangsa perlu tanggap terhada kondisi ini. Pemuda hendaknya maju terus dalam dinamika konteks kebangsaan di Indenesia yang hingga saat ini masih mencoba mencari format terbaik dalam pengembangan demokrasi, wawasan kebangsaan dan membangun bangsa.

Wawasan kebangsaan

“ Nanging hana pamintaku uripana sahananning ratu kabeh” (Mapu Tantular,Sutasoma). Suatu malam pada tahun 1962, di Ubud Gianyar , tatkala langit Pulau-Dewata-Bali-cerah bermandikan cahaya purnama,nusai pementasan wayan sambil menghampiri  I Nyoam Geranyam,Ki Dalang dari Sukawati, yang khusus diundang untuk menggelar lakon dari Kakawin Sutasoma, Bung Karno mengatakan, “ Saya sangat terkesan dengan ucapan Sutasoma tadi”. Lalu Bung Karno menyitir ungkapan  bahasa Jawa Kuno yang tertera diawal tulisan ini, “ Nanging hana pamintaku uripana sahananing ratu kabeh” (Tetapi –permohonanku, hidupkanlah raja-raja itu semua).  Itulah ucapan Sutasoma kepada raksasa Porusada,sambil menyerahkan dirinya sebagai santapan kala, asal seratus raja yang disanderanya dibebaskan.(Noorsena,2001).

Ada plajaran berharga yang menyentak kesadaran kita sebagai bangsa, terutama bagi pemuda sebagai generasi bangsa, betapa besar pengorbanan Bung Karno kepada bangsanya yang diilhami oleh ucapan Sutasoma “ yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi kesejahteraan bangsanya”. Sebab ternya akhirnya jalan yang samalah yang ditempuh oleh Bung Karno demi demi meneyelamatkan bangsa ini dari perang saudara  pasca 30 September 1965. Kisah Sutasoma atelah mengilhami moral Bung Karno untuk lebih baik menenggelamkan dirinya sendiri demi keutuhan bangsa dan negara yang sangat dicintainya.

Apa yang diteladani oleh Bung Karno itu sungguh suatu yang langka yang tidak banyak kita dapati sekarang ini,dimana kepentingan pribadi,kelompok,golongan atau partai lebih dikedepankan ketimbang kepentingan bangsa dan Negara.

Meminjam apa yang dikatakan Anhar Gonggong (2000), taka a algi sosok bangsa yang berkeinginan untuk berjuang agar mampu melampaui dirinya, dalam pengertian ini ia tida hanya memikirkan dirinya, tetapi juga melakukan pergumulan untuk orang lain.

Bhineka Tunggal Ika

“ Bhineka Tunggal Ika Haranira,Tan  Hana Dharma Mangrwa “ merupakan pernyataan politik yang sangat tepat dalam upaya menggalang persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang menhadapi pertikaian social kerena kemajemukan masyarakat yang tersebar  di jambrut katulistiwa. Tantangan pertikaian social itu merupakan konsekwensi logis dalam Negara besar yang berupaya membangun dan mempersatukan segenap penduduk di Kepulauan Nusantara yabng semula hidup dalam kelompok-kelompok social yang mandiri dan mengembangkan pola-pola adaaaptasi local. Mengingat kenyataan tersebut pemuda bersama pemerintah tidak mempunyai pilihan lain  kecuali menghormati keragaman kebudayaan dan agama masyarakatnya dalam mempersatukan rakyat.

Sumpah Pemuda

Proses membentuk dan membangun bangsa Indonesia belum selesai, munculnya wacana bangsa Indoensia belum lebih dari 100 tahun. Tatkala untuk berbangsa, yang mengkristal dengan jelas  83 tahun lalu, tepatnya pada  28 Oktober 1928 dengan Sumpah Pemuda. Meskipun serupa dalam semangatnya untuk membangun dan menyatukan Nusantara, Sumpah Pemuda berbeda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan Maha Patih Gajah Mada. Sumpa Palapa menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai Pusat.

Sumpah Pemuda ingin membangun persatuan dalam nafas kebebasan dan persaudaraan serta kondisi yang egaliter, berbagsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu, Indonesia.

Rasa kebangsaan adalah sesuatu yangsulit diterangkan, tetapi ada dalam diri kita, Rasa kebangsaan itulah kemudian mengkristal menjadi kesediaan berkorban bagi tanah air, kesediaan berkorban bagi bangsa. Semangat kebangsaan dari waktu kewaktu terus berubah.  Di awal kemerdekaan,manifestasinya berupa “Mwerdeka atau Mati “ atau Bersatu Kita Teguh , Berceari Kita Runtuh “ tetapi sekarang,di era kesejagatan (globalisasi), di dunia yang semakin menjadi the borderless world ini, semangat kebangsaan itu berupa keinginan kita untuk tidak dikalahkan oleh bangsa lain. Di dalam semangat kebangsaan itu kita merumuskan langkah-langkah kualitatif untuk mencapai tujuan bersama. Itulah yang disebut paham kebangsaan.(Siswono Yudo Husodo).

Revitalisasi Kebangsaan

Bagaimanakah  kebangsaan kita sekarang ? Pertanyaan inisederhana , namun cukup menggelitik. Di era reformasi dan otonomi ini makna kebangsaan justru terasa kabur untuk tida menyatakan sama sekali yidak mengerti. Bahkan sebagai akumulasi dai sejarah perkembangan kebangsaan itu, kebangsaan tak jarang disebut-sebut sebagai sesuatu yang using ketinggalan zaman.

Akumulasi itu terjadi karena kebangsaan itu sudah kehilangan makna dan rohnya ketika ia sudah teramat sering dibajak oleh rezim untuk kepentingan kekuasaan. Kebangsaan tak jarang dipai rezim sebagai komoditas politik dan tameng untuk melanggengkan kekuasaan yang korup dan otoriter. Konteks inilah yang mengantarkan kebangsaan menjadi meaningless, using dan tak bermakna. Kalau mau belajar dari  masa lalu, kita pernah memiliki rasa kebangsaan yang begitu tinggi menjelang dan awal kemerdekaan, bisa jadi  hal ini disebabkan oleh tiga hal :

  1. Bangsa Indonsia menghaapi musuh bersama,yakni penjajah.
  2. Bangsa Indonesia memiliki tujuan bersama, yakni ingin mandiri untuk sebuah bangsa yang merdeka.
  3. Ketika itu bangsa Indnesia merasa senasib dan sepenanggungan untuk melawan penjajahan menuju kemerdekaan

Disinilah terjadi energy dari segenap lapisan masyarakat dengan kemampuan msing-masing bertujuan inngin mengubah nasib bersama.

Saat ini kita sebenarnya masih memiliki ketiga hal tersebut.

  1. Musuh bersama bangsa ini dan masih sangat garang mencengkram kita adalah berupa KKN, kebodohan dan kemiskinan, . Musuh ini bukanlahsesuatu yang ringan dan sebenarnya itulah musuh bangsa ini yangsesungguhnya.
  2. Kemakmuran bangsa inimerupakan tujuan bersama yang masih terus harus diperjuangkan secara sungguh-sungguh.
  3. Kita sebenarnya masih senasib berada dibawah cengkraman bangsa asing yang bernaama kebodohan, kemiskinan dan lilitan hutang tanpa mampu b erbuat banyak.

Inilah  butir-butir revitalisasi  kebangsaan Indonesia masa kini dan masa depan, yang harus kita lakukan dalam membangun bangsa.

Sejalan dengan tantangan  zaman, semangat kebangsaan sesungguhnya bisa digunakan sebagai semangat kebersamaan untuk melawan musuh bersama seperti KKN. Kediktaktoran dan sikap  represi. Bahkan lebih jauh,  sebenarnya wawan kwebangsaan bisa dipakai sebagai alat untuk memodernisasi masyarakat ditengah kecendrungan globalisasi yang semakin massif. Tetapi syaratnya,yakni membawa kembali Negara sesuai fungsinya,dalam kapasitas Negara yang cukup untuk melakukan proses modernisasi dan kesepakatan bersama.

Tak kala sekaranginisering kali terdengar pekik “Merdeka” di panggung kampanye yang ditujukan pada bangsa sendiri, yang terjadi adalah semangat kebangsaan sebagian dari warga bangsa ini terkalahkan oleh keserakah atas kedudukan, jabatan dan keinginan untuk mempertahankan kekuasaan.

Sekarang ini,lebih dari saat-saat yang lain, Negara membutuhkan pemuda dan pemimpin yang bersih, jujur, visioner, bermartabat,merayat,kebangsaan,memiliki keteladanan dan selalu berbicara dengan data bertindak dengan rencaana.

Bergerak dan teruslah bergerak

Agar Merah Putih terwariskan tanpa terkoyak

Agar kejayaan Majapahit dapat kembali bangkit

Agar sejarah tak mencatat kita …

Generasi yang mewariskan “ Kebangsaan yang Terpuruk “.

Kesimpulan

Peranan pemuda dalam pengembangan wawasan kebangsaan sepatutnya mengarah ke format yang mengedepankan harmoni kedamaiandengasn mengembangkan semangat jiwa toleransi saling pweduli,sehingga  serasi dengan ekologi Indonesia yang indah dalam kawasan Indonesia Raya yang luas di jambrut katulistiwa “ Bhineka Tunggal Ika “. Gagasan dan aksi membangkitkan peran pemuda dalam pembangunan bangsa merupakan kebutuhan strategis bagi pembangunan Indonesia sekarang dank e-depan dan bahkan relevan untuk pembangunan daerah dalam konteks revitalisasi local dan kompetensi global,lompatan idealism dan  peradaban di tengah keterpurukan kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara akan member makana dan merupakan obsesi alternative dimana obsesi yang bisa direkomendasikan.

Daftar Pustaka

Sultan Hamengku Buwono X 2008,Merajut Kembali Indonesia Kita,PT.Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

Sri Hastanto 2006,Refleksi Bhineka Tunggal Ika salam  Seni Film. Sarasehan PKB.XXVIII, 10 Juli 2006.

National Integration Movement 2005, Bangkitlah Bumi Pertiwi, PT One Earth Media Jakarta

Media Hindu, 5 dan 8, Nilai Sumpah Pemuda,Visi Kepemimpinan Nasional Kaum Muda Hindu

( I Made Budi Arsika) 2004)

(I Wayan Martahadi)*:  Widyaiswara Pslitbangdiklat LPP RRI Jakarta.

PERANAN PEMUDA DALAM PENGEMBANGAN WAWASAN KEBANGSAAN

DAN MEMBANGUN BANGSA

(I Wayan martahadi) *

Pendahuluan

Sebelum kita menjelajah pada pembahasan subtansi yang cukup rumit ini kita kenang selintas mengenai pergerakan berbagai peristitawa yang sebenarnya sudah kita pahami, namun perlu untuk dikonfirmasikan baik arti maupun isi serta pengertiannya dan berbagai pernak-perniknya.

Peranan Pemuda

Dalam kondisi bangsa saat ini yang diwarnai oleh berbagai persoalan pasca suksesi kepemimpinan nasional (reformasi 1998), pemuda benar-benafr menjadi tumpuan dan harapan dalam merumuskan konsep dan mengembangkan wawasan kebangsaan dalam membangun bangsa.

Jika berangkat dari gerakkan mahasiswa dan kaum muda pada saat (sumpah pemuda 1928 dan reformasi 1998) yang cendrung berwatak jalan tengah, maka konsep kaum muda di Indonesia tentu tidak bermakna pengambil alihan seluruh peran dalam sistem wawasan kebangsaan dan pembangunan bangsa oleh kaum muda secara serta merta,dramatis dan irasional. Konsep ini lebih cendrung pada peningkatan efektivitas serta keterlibatan kaum muda dalam melakukan kontribusi positif terhadap sistem pengembangan wawasan kebangsaan dan pembangunan bangsa secara integral dan holistic. Dengan demikian yang perlu diingat adalah : kaum muda sebagai kader-kader bangsa harus menyiapkan diri dalam pengambil alihan tongkat estafet dalam mengembangkan wawasan kebangsaan dan pembangunan bangsa dengan mengemban amanat reformasi.

Pemuda sebagai salah satu komponen bangsa perlu tanggap terhada kondisi ini. Pemuda hendaknya maju terus dalam dinamika konteks kebangsaan di Indenesia yang hingga saat ini masih mencoba mencari format terbaik dalam pengembangan demokrasi, wawasan kebangsaan dan membangun bangsa.

Wawasan kebangsaan

“ Nanging hana pamintaku uripana sahananning ratu kabeh” (Mapu Tantular,Sutasoma). Suatu malam pada tahun 1962, di Ubud Gianyar , tatkala langit Pulau-Dewata-Bali-cerah bermandikan cahaya purnama,nusai pementasan wayan sambil menghampiri I Nyoam Geranyam,Ki Dalang dari Sukawati, yang khusus diundang untuk menggelar lakon dari Kakawin Sutasoma, Bung Karno mengatakan, “ Saya sangat terkesan dengan ucapan Sutasoma tadi”. Lalu Bung Karno menyitir ungkapan bahasa Jawa Kuno yang tertera diawal tulisan ini, “ Nanging hana pamintaku uripana sahananing ratu kabeh” (Tetapi –permohonanku, hidupkanlah raja-raja itu semua). Itulah ucapan Sutasoma kepada raksasa Porusada,sambil menyerahkan dirinya sebagai santapan kala, asal seratus raja yang disanderanya dibebaskan.(Noorsena,2001).

Ada plajaran berharga yang menyentak kesadaran kita sebagai bangsa, terutama bagi pemuda sebagai generasi bangsa, betapa besar pengorbanan Bung Karno kepada bangsanya yang diilhami oleh ucapan Sutasoma “ yang rela mengorbankan dirinya sendiri demi kesejahteraan bangsanya”. Sebab ternya akhirnya jalan yang samalah yang ditempuh oleh Bung Karno demi demi meneyelamatkan bangsa ini dari perang saudara pasca 30 September 1965. Kisah Sutasoma atelah mengilhami moral Bung Karno untuk lebih baik menenggelamkan dirinya sendiri demi keutuhan bangsa dan negara yang sangat dicintainya.

Apa yang diteladani oleh Bung Karno itu sungguh suatu yang langka yang tidak banyak kita dapati sekarang ini,dimana kepentingan pribadi,kelompok,golongan atau partai lebih dikedepankan ketimbang kepentingan bangsa dan Negara.

Meminjam apa yang dikatakan Anhar Gonggong (2000), taka a algi sosok bangsa yang berkeinginan untuk berjuang agar mampu melampaui dirinya, dalam pengertian ini ia tida hanya memikirkan dirinya, tetapi juga melakukan pergumulan untuk orang lain.

Bhineka Tunggal Ika

“ Bhineka Tunggal Ika Haranira,Tan Hana Dharma Mangrwa “ merupakan pernyataan politik yang sangat tepat dalam upaya menggalang persatuan dan kesatuan bangsa yang sedang menhadapi pertikaian social kerena kemajemukan masyarakat yang tersebar di jambrut katulistiwa. Tantangan pertikaian social itu merupakan konsekwensi logis dalam Negara besar yang berupaya membangun dan mempersatukan segenap penduduk di Kepulauan Nusantara yabng semula hidup dalam kelompok-kelompok social yang mandiri dan mengembangkan pola-pola adaaaptasi local. Mengingat kenyataan tersebut pemuda bersama pemerintah tidak mempunyai pilihan lain kecuali menghormati keragaman kebudayaan dan agama masyarakatnya dalam mempersatukan rakyat.

Sumpah Pemuda

Proses membentuk dan membangun bangsa Indonesia belum selesai, munculnya wacana bangsa Indoensia belum lebih dari 100 tahun. Tatkala untuk berbangsa, yang mengkristal dengan jelas 83 tahun lalu, tepatnya pada 28 Oktober 1928 dengan Sumpah Pemuda. Meskipun serupa dalam semangatnya untuk membangun dan menyatukan Nusantara, Sumpah Pemuda berbeda dengan Sumpah Palapa yang diucapkan Maha Patih Gajah Mada. Sumpa Palapa menempatkan Kerajaan Majapahit sebagai Pusat.

Sumpah Pemuda ingin membangun persatuan dalam nafas kebebasan dan persaudaraan serta kondisi yang egaliter, berbagsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu, Indonesia.

Rasa kebangsaan adalah sesuatu yangsulit diterangkan, tetapi ada dalam diri kita, Rasa kebangsaan itulah kemudian mengkristal menjadi kesediaan berkorban bagi tanah air, kesediaan berkorban bagi bangsa. Semangat kebangsaan dari waktu kewaktu terus berubah. Di awal kemerdekaan,manifestasinya berupa “Mwerdeka atau Mati “ atau Bersatu Kita Teguh , Berceari Kita Runtuh “ tetapi sekarang,di era kesejagatan (globalisasi), di dunia yang semakin menjadi the borderless world ini, semangat kebangsaan itu berupa keinginan kita untuk tidak dikalahkan oleh bangsa lain. Di dalam semangat kebangsaan itu kita merumuskan langkah-langkah kualitatif untuk mencapai tujuan bersama. Itulah yang disebut paham kebangsaan.(Siswono Yudo Husodo).

Revitalisasi Kebangsaan

Bagaimanakah kebangsaan kita sekarang ? Pertanyaan inisederhana , namun cukup menggelitik. Di era reformasi dan otonomi ini makna kebangsaan justru terasa kabur untuk tida menyatakan sama sekali yidak mengerti. Bahkan sebagai akumulasi dai sejarah perkembangan kebangsaan itu, kebangsaan tak jarang disebut-sebut sebagai sesuatu yang using ketinggalan zaman.

Akumulasi itu terjadi karena kebangsaan itu sudah kehilangan makna dan rohnya ketika ia sudah teramat sering dibajak oleh rezim untuk kepentingan kekuasaan. Kebangsaan tak jarang dipai rezim sebagai komoditas politik dan tameng untuk melanggengkan kekuasaan yang korup dan otoriter. Konteks inilah yang mengantarkan kebangsaan menjadi meaningless, using dan tak bermakna. Kalau mau belajar dari masa lalu, kita pernah memiliki rasa kebangsaan yang begitu tinggi menjelang dan awal kemerdekaan, bisa jadi hal ini disebabkan oleh tiga hal :

1. Bangsa Indonsia menghaapi musuh bersama,yakni penjajah.

2. Bangsa Indonesia memiliki tujuan bersama, yakni ingin mandiri untuk sebuah bangsa yang merdeka.

3. Ketika itu bangsa Indnesia merasa senasib dan sepenanggungan untuk melawan penjajahan menuju kemerdekaan

Disinilah terjadi energy dari segenap lapisan masyarakat dengan kemampuan msing-masing bertujuan inngin mengubah nasib bersama.

Saat ini kita sebenarnya masih memiliki ketiga hal tersebut.

1. Musuh bersama bangsa ini dan masih sangat garang mencengkram kita adalah berupa KKN, kebodohan dan kemiskinan, . Musuh ini bukanlahsesuatu yang ringan dan sebenarnya itulah musuh bangsa ini yangsesungguhnya.

2. Kemakmuran bangsa inimerupakan tujuan bersama yang masih terus harus diperjuangkan secara sungguh-sungguh.

3. Kita sebenarnya masih senasib berada dibawah cengkraman bangsa asing yang bernaama kebodohan, kemiskinan dan lilitan hutang tanpa mampu b erbuat banyak.

Inilah butir-butir revitalisasi kebangsaan Indonesia masa kini dan masa depan, yang harus kita lakukan dalam membangun bangsa.

Sejalan dengan tantangan zaman, semangat kebangsaan sesungguhnya bisa digunakan sebagai semangat kebersamaan untuk melawan musuh bersama seperti KKN. Kediktaktoran dan sikap represi. Bahkan lebih jauh, sebenarnya wawan kwebangsaan bisa dipakai sebagai alat untuk memodernisasi masyarakat ditengah kecendrungan globalisasi yang semakin massif. Tetapi syaratnya,yakni membawa kembali Negara sesuai fungsinya,dalam kapasitas Negara yang cukup untuk melakukan proses modernisasi dan kesepakatan bersama.

Tak kala sekaranginisering kali terdengar pekik “Merdeka” di panggung kampanye yang ditujukan pada bangsa sendiri, yang terjadi adalah semangat kebangsaan sebagian dari warga bangsa ini terkalahkan oleh keserakah atas kedudukan, jabatan dan keinginan untuk mempertahankan kekuasaan.

Sekarang ini,lebih dari saat-saat yang lain, Negara membutuhkan pemuda dan pemimpin yang bersih, jujur, visioner, bermartabat,merayat,kebangsaan,memiliki keteladanan dan selalu berbicara dengan data bertindak dengan rencaana.

Bergerak dan teruslah bergerak

Agar Merah Putih terwariskan tanpa terkoyak

Agar kejayaan Majapahit dapat kembali bangkit

Agar sejarah tak mencatat kita …

Generasi yang mewariskan “ Kebangsaan yang Terpuruk “.

Kesimpulan

Peranan pemuda dalam pengembangan wawasan kebangsaan sepatutnya mengarah ke format yang mengedepankan harmoni kedamaiandengasn mengembangkan semangat jiwa toleransi saling pweduli,sehingga serasi dengan ekologi Indonesia yang indah dalam kawasan Indonesia Raya yang luas di jambrut katulistiwa “ Bhineka Tunggal Ika “. Gagasan dan aksi membangkitkan peran pemuda dalam pembangunan bangsa merupakan kebutuhan strategis bagi pembangunan Indonesia sekarang dank e-depan dan bahkan relevan untuk pembangunan daerah dalam konteks revitalisasi local dan kompetensi global,lompatan idealism dan peradaban di tengah keterpurukan kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara akan member makana dan merupakan obsesi alternative dimana obsesi yang bisa direkomendasikan.

Daftar Pustaka

Sultan Hamengku Buwono X 2008,Merajut Kembali Indonesia Kita,PT.Gramedia Pustaka Utama Jakarta.

Sri Hastanto 2006,Refleksi Bhineka Tunggal Ika salam Seni Film. Sarasehan PKB.XXVIII, 10 Juli 2006.

National Integration Movement 2005, Bangkitlah Bumi Pertiwi, PT One Earth Media Jakarta

Media Hindu, 5 dan 8, Nilai Sumpah Pemuda,Visi Kepemimpinan Nasional Kaum Muda Hindu

( I Made Budi Arsika) 2004)

(I Wayan Martahadi)*: Widyaiswara Pslitbangdiklat LPP RRI Jakarta.